PELUANG
Teori Peluang adalah sebuah ilmu matematika yang
dipopulerkan oleh Blaise Pascal dan dikembangkan oleh Pierre de Format pada
abad ke-17. Banyak sekali bidang dari teori peluang.
Sejarah lahirnya teori peluang dimulai pada tahun 1952. Saat
itu, seorang bangsawan Perancis (penggemar matematika) yang bernama Chevalin de
Mere bertemu dengan ahli filsafat dan agama Blaise Pascal dalam sebuah
perjalanan. Pada kesempatan itu, Chevalin De Mere menanyakan sejumlah persoalan
tentang matematika kepada Blaise Pascal. Pertanyaan Chevalin De Mere adalah
bagaimana cara membagi hasil (hadiah) taruhan permainan dadu jika harus
berhenti di tengah-tengah permainan. Pertanyaan tersebut sebenarnya prtanyaan
yang sudah sering dicoba untuk dijawab oleh banyak ahli matematika seperti Luca
Pacioli pada tahun 1694 dan Nicolo Tartaglia pada abad ke-16. Tetapi, jawaban
dari kedua ahli tersebut dianggap Chevalin De Mere belum memuaskan.
Setelah Blaise Pascal cukup lama memikirkan jawabannya, pada
tahun 1654 Blaise Pascal meminta bantuan kepada temannya yang bernama Piere de Fermat, seorang
ahli hukum untuk menjawabnya. Akhirnya, setelah bersama-sama berusaha
memecahkan pertanyaan tersebut, muncullah cabang ilmu matematika baru, yaitu teori
peluang atas dasar pemikiran Blaise Pascal dan Piere De Fermat yang sampai
sekarang terus berkembang.
Peluang sebenarnya
telah masuk dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, pada permainan ular tangga
yang sering dimainkan oleh anak-anak. Pada permainan tersebut, terdapat dadu
yang dilambungkan secara bergantian. Misalkan ada seorang anak bernama Ani dan
Putri yang sedang bermain ular tangga. Ketika giliran Ani melambungkan dadu,
Ani dan Putri sama-sama tidak tahu-menahu dadu mana yang akan muncul. Kemungkinan
mata dadu yang muncul bisa 1, 2, 3, 4, 5, atau 6. Nah, kemungkinan mata dadu
yang bisa muncul tersebut dalam matematika disebut dengan peluang. Pada pstingan ini, akan dibahas mengenai
peluang dari suatu percobaan.
Sebelum masuk dalam pembahasan kita akan mempelajari dahulu apa yang dinamakan percobaan. Percobaan atau eksperimen adalah suatu kegiatan yang dapat memberikan beberapa kemungkinan. Contohnya, melemparkan dadu, melemparkan mata uang atau koin, dan lain-lain.
Dalam pembahasan materi peluang ini, akan dibahas mengenai ruang
sampel dan titik sampel, kejadian, frekuensi relatif, dan yang terakhir peluang
suatu kejadian.
1. Ruang dan Titik Sampel
Dalam
pelambungan sebuah dadu, hal yang mungkin terjadi berupa munculnya mata dadu 1,
2, 3, 4, 5, atau 6. Himpunan semua hasil yang mungkin terjadi, yaitu {1, 2, 3, 4,
5, 6} disebut ruang sampel. Setiap anggota ruang sampel disebut titik
sampel. Ruang sampel suatu percobaan dapat dicari (ditentukan) dengan
menggunakan tabel atau diagram pohon.
a. Ruang Sampel Pelambungan Dua Keping Uang Logam
Menentukan
ruang sampel dengan tabel
Menentukan
ruang sampel dengan diagram pohon
Ruang sampel: S = {(A,
A), (A, G), (G, A), (G, G)
Terdapat empat titik
sampel: n(S) = 4
Banyak anggota ruang
sampel n(S) dapat dicari dengan cara berikut.
Satu keeping uang logam
mempunyai dua sisi yang mungkin muncul saat dilambungkan. Oleh karena itu,
pelambungan dua keping uang logam, banyak anggota ruang sampel n(S) = 2 x 2 = 4
b. Ruang Sampel Pelambungan Dua Dadu
(1, 1) adalah titik
sampel
(3, 4) adalah titik
sampel
(5, 6) adalah titik
sampel
(6, 6) adalah titik
sampel
Pada pelambungan dua buah
dadu ini terdapat 36 kemungkinan titik sampel yang muncul.
Setiap dadu
mempunyai 6 mata dadu yang mungkin muncul. Dengan cara seperti di atas:
Banyak anggota ruang sampel
= banyak titik sampel
= n(S)
= 6 x 6 = 36
c. Ruang Sampel Pelambungan Sekeping Uang Logam dan Sebuah Dadu
Jika n(S) adalah banyak
kejadian yang muncul pada pelambungan sekeping uang logam dan sebuah dadu maka
n(S) = 2 x 6 = 12.
2. Kejadian
Kejadian
atau peristiwa merupakan himpunan bagian dari ruang sampel. Kejadian
dinotasikan dengan huruf kapital seperti K, A, atau B. banyak anggota kejadian
K dinyatakan dengan n(K). Kejadian selain K merupakan kejadian munculnya selain
titik-titik sampel pada K dalam ruang sampel S. Kejadian selain dinotasikan
dengan K’ atau Kc (dibaca: komplemen K). Banyak anggota kejadian
selain K dinyatakan dengan n(K’) atau n(Kc). Oleh karena K’ adalah
kejadian munculnya selain titik-titik sampel K dalam ruang sampel S maka
sehingga n(K) + n(K’) = n(S)
sehingga n(K) + n(K’) = n(S)
Misalkan
K = kejadian muncul mata dadu kelipatan 3 pada satu kali pelambungan sebuah
dadu, maka:
S =
{1, 2, 3, 4, 5, 6}; n(S)= 6
K =
{3, 6}; n(K) = 2
K’ =
(1, 2, 4, 5); n(K’) = 4
Atau
n(K) +
n(K’) = n(S)
n(K’) = n(S) – n(K)
n(K’) = 6 – 2
n(K’) = 4
3. Frekunsi Relatif
Misalkan
ketika anak-anak bermain ular tangga, setiap anak melambungkan dadu dicatat
mata dadu yang muncul. Hingga pelambungan dadu ke-90 diperoleh hasil seperti
berikut.
Data hasil
pelambungan dadu di atas dapat dihitung nilai perbandingan antara frekuensi muncul
setiap mata dadu dengan banyak percobaan sebagai berikut.
Nilai
dinamakan frekuensi relative (fr)
atau peluang empiris. Misalkan dalam N kali percobaan kejadian A muncul n(A)
kali, maka frekuensi relative kejadian A dapat dirumuskan :
dinamakan frekuensi relative (fr)
atau peluang empiris. Misalkan dalam N kali percobaan kejadian A muncul n(A)
kali, maka frekuensi relative kejadian A dapat dirumuskan :
4. Peluang Suatu Kejadian
Pengertian
peluang kejadian A dalam suatu percobaan yaitu kesempatan atau seberapa mungkin
kejadian A itu terjadi (muncul,
terpilih, terambil, dan sebagainya). Tingkat kemungkinan kejadian diartikan
sebagai nilai peluang. Nilai peluang kejadian A merupakan hasil bagi antara
banayk anggota kejadian A atau n(A) dengan banyak anggota ruang sampel atau
n(S), ditulis:
Selanjutnya,
nilai peluang disebut dengan peluang saja. Peluang seperti di atas disebut juga
dengan peluang teoretik atau peluang klasik. Peluang kejadian bukan A dinamakan
peluang komplemen kejadian A. Ditulis P(A’) atau P(Ac). Jumlah
peluang kejadian A dan peluang komplemen kejadian A sama dengan 1 (pasti terjadi).
Dengan demikian P(A) + P(A’) = 1 atau P(A’) = 1 – P(A).
Sebagai
contoh sebuah dadu dilambungkan sekali. Ruang sampel percobaan adalah S = {1,
2, 3, 4, 5, 6} sehingga n(S) = 6. Misalkan A = kejadian muncul mata dadu faktor
dari 3, maka A = {1, 3} sehingga n(A) = 2.
Peluang muncul mata dadu faktor dari
3 adalah
Peluang muncul mata dadu bukan
faktor dari 3 adalah
CONTOH SOAL:
1.
Ada sebuah dadu lalu dilempar sekali, tentukan peluang
munculnya mata dadu 6!
Jawab:
Banyaknya titik sampel n(s) = 6
Titik sampel dadu bernilai 6 n(A) = 1
Jadi, peluang munculnya mata dadu 6 adalah 1/6
2. Sebuah
kantong terdiri dari 4 kelereng merah, 3 kelereng biru, dan 5 kelereng hijau.
Dari kelereng- kelereng tersebut akan diambil satu kelereng. Tentukan peluang
terambilnya kelereng berwarna biru !
Jawab :
Banyaknyaa titik sampel n(s) = 4 + 3 + 5 = 12
Titik sampel kelereng biru n(A) = 3
Jawab :
Banyaknyaa titik sampel n(s) = 4 + 3 + 5 = 12
Titik sampel kelereng biru n(A) = 3
3.
Dua
buah koin dilempar bersamaan. Tentukan peluang muncul keduanya angka!
Jawab :
Ruang sampelnya yakni = { (A,G), (A,A), (G,A), (G,G)}
n ( s) = 4
banyaknya titik sampel keduanya angka yakni n (A) = 1
Jawab :
Ruang sampelnya yakni = { (A,G), (A,A), (G,A), (G,G)}
n ( s) = 4
banyaknya titik sampel keduanya angka yakni n (A) = 1












Tidak ada komentar:
Posting Komentar